Lamunan Malam

Rasanya sudah lama sekali saya tak menulis untuk blog ini. Namun, hujan yang turun malam beberapa hari yang lalu membuat saya bergairah untuk menulis kembali. Banyak hal yang terlewati beberapa bulan ini. Sayangnya saya terlalu malas untuk sekadar berbagi kisah. Kali ini saya ingin melamun. Membebaskan pikiran untuk bermain-main tanpa batas sambil menikmati rintikan air hujan.

Seandainya saja malam ini saya bisa pergi ke sebuah akuarium raksasa. Ingin rasanya duduk diantara kegelapan dan sejenak menatap aneka binatang laut yang menari-nari di dalam air. Membiarkan wajah ini disinari cahaya kebiruan yang berpendar dari balik akuarium. Sejenak menutup mata dan mendengarkan alunan suara lembut para mahkluk air yang terperangkap di dalam dunia buatan. Sebuah nyanyian penuh tangis yang tak pernah bisa dipahami manusia.

Seandainya ada motor yang bisa saya pakai malam ini. Rasanya saya ingin berputar mengelilingi kota, saat semua penghuninya tengah terlelap. Menancap gas sekencang mungkin tanpa rasa takut. Menikmati hembusan angin yang kencang menerpa wajah ini. Tertawa lepas diantara lampu-lampu di pinggir jalan. Tak ada yang mengatakan salah atau benar malam ini, bahkan lampu lalu lintas pun tak berdaya. Kedipan lampu kuning seakan mengajak untuk kencang melaju tanpa henti.

Seandainya kereta listrik beroperasi hingga lewat tengah malam. Saya ingin menaikinya dan duduk di dekat jendela. Menikmati kesunyian gerbong dan alunan roda-roda kereta yang melaju di atas rel. Keriuhan lampu di kanan-kiri rel kereta membuat malam menjadi semakin hidup. Lewat jendela kereta, beraneka kehidupan yang tak pernah kita sadari pun hadir. Keramaian pasar malam di atas lapangan kosong, kesibukan pedagang di pasar pinggir rel, dan sepasang kekasih yang berboncengan di atas motor dekat palang kereta api. Hidup menjadi begitu cepat, menyadari bahwa setiap detik menjadi begitu berharga.

Seandainya malam ini saya bisa pergi ke sebuah dermaga. Tak ada hal lain yang dilakukan selain duduk di tepi dermaga. Duduk sambil menghabiskan sekotak rokok dan berbotol-botol bir. Angin laut yang berhembus kencang justru menjadi penghangat di malam yang dingin. Samar-samar terdengar suara peluit kapal. Terasa begitu dekat, tapi tak pernah tahu di mana kapal itu berada. Ombak yang berdesir pun menjadi teman sepanjang malam. Saat matahari menunjukkan sinarnya, semua penantian pun terbayarkan.

Seandainya ada kolam renang di halaman rumah ini. Pasti saya tak malu-malu untuk melucuti baju dan terjun ke dalam air. Berenang telanjang tanpa peduli dengan bentuk tubuh yang tak menarik ini. Riak air di kolam pun menjadi musik yang memeriahkan malam. Cahaya biru yang berpendar dari dasar kolam seakan mengajak tubuh ini untuk menyelam lebih dalam. Tubuh pun menyatu dengan air dan semua rasa takut hilang.

Seandainya hujan tak pernah berhenti turun. Saya ingin menari dan terus menari di bawah guyuran air hujan. Berlarian mengelilingi rumah tanpa malu. Mendendangkan lagu masa kecil dan tertawa lepas bersama hujan yang turun dengan deras. Suara petir dan cahaya kilat pun ikut menari. Tak ada yang jelek dan tak akan ada yang menilai jelek. Semua adalah apa adanya. Sebuah kewarasan yang orang lain anggap sebagai kegilaan. Semua tertawa.

Seandainya kakak saya masih hidup. Rasanya ingin sekali mengajaknya terjun bebas dari tepi tebing setinggi Monas. Tak ada rasa takut, semua menjadi biasa. Bahkan kematian adalah sebuah permainan kami berdua. Sayang, kakak saya selalu mendapatkan sayap setiap kali kami terjun. Sedangkan saya selalu mendapat parasut. Gravitasi bumi tak pernah bisa melepaskan saya, ketimbang kakak saya. Ia terbang tinggi dan tak pernah kembali. Kali ini untuk selamanya.

Seandainya rumah ini sepi. Tangan ini seakan tak tahan untuk menggantungkan sebuah tali di atas kusen pintu. Kesunyian tak pernah bisa menahan tangan ini untuk mengalungkan leher ini dengan tali gantung. Kesunyian justru yang membuat kaki ini segera melompat dari atas kursi. Sebuah lompatan kecil untuk akhir yang dramatis. Tubuh ini pun tergantung. Tak ada yang akan peduli dengannya. Bahkan teriakan histeris menjadi sebuah tanda kemenangan. Saya berkuasa atas tubuh ini.

Seandainya semua ini hilang dalam lamunan. Selamat malam. :)

Advertisement

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s