32

  
Melewati satu lagi hari, satu lagi tahun, dan satu lagi usia. Tiada yang istimewa, apalagi saya sudah terbiasa melewati pergantian hari, bulan dan juga tahun tanpa selebrasi. Tapi saya selalu berusaha bersyukur karena masih diberi napas, diberi detak jantung, dan diberi kewarasan untuk terus melanjutkan perjalanan besar saya.

Banyak fase yang sudah saya lalui. Tapi saya masih perlu terus belajar. Masih ada banyak kesalahan yang terus berulang dilakukan. Masih ada banyak keputusan yang salah. Masih ada banyak letupan-letupan emosi yang kekanak-kanakan. Bahkan di masa kepala tiga ini.

Walau begitu, terima kasih atas kaki-kaki yang masih bisa diberikan kekuatan untuk menyangga saya. Tangan-tangan yang terus menggandeng dan menguatkan keyakinan saya. Dan bahu untuk sejenak bersandar dan berkeluh-kesah.

Terima kasih telah menggenapkan saya menjadi 32. Terima kasih telah menambahkan satu scene panjang lagi dalam mega film perjalanan saya. Terima kasih.

Saya sedang mempersiapkan loncatan terjauh saya…

Pernahkah Anda ingin berhenti dan sejenak menarik napas panjang sebelum memulai perjalanan? Apakah fase ini hanya berlangsung sekejap atau membutuhkan banyak waktu untuk bisa kembali melangkahkan kaki? Saya, sudah hampir tiga puluh hari tak lagi menjadi buruh korporasi. Hebat yah! Tapi apakah sehebat itu sehingga saya berani untuk memutuskan melepaskan pekerjaan dan karir yang selama ini saya raih dengan bekerja keras?

Saya memang tak lagi muda. Saya sudah berusia tiga puluh satu tahun. Usia di mana saya seharusnya sedang produktif-produktifnya. Tapi saya lelah. Apalagi yang saya cari? Kalau mau mengikuti tren terkini atau tuntutan gaya hidup, saya rasa uang yang saya peroleh setiap tanggal 25 (tanggal gajian di kantor saya sebelumnya) bisa hilang sekejap dalam hitungan jari tangan saja. Saya memang pelit, tapi saya sadar diri dengan kehidupan yang harus saya jalani.

“Tapi kamu masih enak karena masih bujang”. Oh benarkah demikian? Tapi saya rasa itu tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang yang sudah berkepala tiga dan masih bujang seperti saya. Masing-masing punya kebutuhan, kepentingan hingga keinginan yang berbeda. Bagi saya, masih sendiri memang memudahkan untuk bisa mengembangkan apa yang menjadi talenta saya. Tapi, ya ada tapinya. Apakah Anda benar-benar sendiri sekarang? Dalam kasus saya sih, masih ada ibu saya yang harus saya jaga. Bahkan tingkatannya bisa melebihi orang yang sudah punya anak. Dan ya, saya masih memikirkan beliau dan menjadikan beliau sebagai  salah satu bagian dalam status bujang saya. Artinya ya tidak sebebas yang dibayangkan.

Kembali ke masalah rasa bosan dan lelah dengan bekerja sebagai karyawan. Sebenarnya saya menikmati menjadi karyawan. Saya tahu benar bagaimana liciknya seseorang ketika mempertahankan dirinya dan pekerjaannya supaya tidak dianggap benar atau menjadi yang selalu benar. Politik kantor tak ubahnya politik yang terjadi di gedung wakil rakyat. Kalau tidak siap mental, ya mungkin hanya bisa bertahan dalam hitungan hari atau bahkan jam saja. Tapi mengapa saya bosan dan lelah, ya karena saya tidak tahu lagi apa yang saya cari? Uang untuk membayar tagihan-tagihan yang tiap bulannya makin menumpuk? Atau apalagi kalau bukan selain uang?

Kebahagiaan?

Dengan uang kita bisa mendapatkannya, walau memang semu (dan yang di setiap agama selalu dianggap sebagai harta duniawi yang tidak akan dibawa ke akhirat saat saya atau Anda meninggal nanti). Kebahagiaan seperti apa? Melakukan apa yang Anda suka dan bisa dikenal orang lain? Atau hilang dari semua hiruk-pikuk dan menjadi anonim?

Ya kalau idealnya sih saya ingin seperti itu. Tapi, Anda membutuhkan uang untuk bisa tetap berteduh dari teriknya sinar matahari, untuk membeli sayuran yang disajikan dalam piring makan siang Anda, untuk menutupi tubuh Anda sehingga tampak lebih beradab dan dianggap tidak gila.

Namun bukan  berarti kita hanya mengejar duniawi saja. Surgawi tetap dicari, tapi lebih baik itu menjadi ranah paling pribadi Anda. Seperti Anda menutupi kemaluan Anda supaya tidak dilihat orang lain. Realistis adalah kata yang tepat. Saya menginginkan kebahagian dengan melakukan apa yang saya suka. Itu saja. Tapi bukan berarti bebas. Kita juga harus punya batasan diri. Ingat, daun saja tidak bisa ditukarkan dengan sebungkus mi instan. Katanya sih “do what you love!”, lakukan apa yang Anda cintai dan sukai. Jangan lupa untuk meningkatkan apa yang menjadi kemampuan Anda. Ingat ya, jangan dipaksakan. Tingkatkan dengan hal yang kecil lebih dulu. Suatu ketika kemampuan kita akan semakin canggih. Perlu waktu. Ya, sekarang saya dalam fase ini. Bisa saja saya dalam fase wait and see. Meski saya juga tetap harus berjalan untuk bisa mencari sesuap nasi sekadarnya. Tak mudah, tapi saya yakin kalau saya bisa melakukan perjalanan panjang kembali. Bahkan dalam perjalanan berikutnya tak perlu lagi beristirahat yang panjang. Cukup satu tarikan napas dan saya bisa langsung meloncat jauh.

Lihat saja nanti!

Bananagasm

bananagasm logo

Tak terasa sudah lewat tengah malam. Beberapa kue pesanan sudah matang dan tinggal didinginkan di atas rak. Kantuk selalu menjadi teman yang tak pernah beranjak dari hari-hari sejak pertama kali saya membuka “toko kue pisang” saya di awal Maret 2015. Walaupun kadang terasa capek, tapi saya tetap berdiri dengan manis di depan meja untuk mengaduk setiap adonan yang hendak saya masukkan ke dalam oven. Sudah ada lebih dari 100 kue brownies pisang yang telah saya buat dua bulan terakhir ini. Rasanya tak menyangka akan sebanyak itu.

Memulainya memang bukan hal mudah. Tahun ini adalah tahun yang penuh tantangan untuk saya. Sejak memasuki kepala tiga, saya mulai memutar otak untuk bisa meraih apa yang saya inginkan. Menggapai titik di mana saya bisa berdiri sendiri tanpa harus bekerja untuk orang lain. Rasanya saya sudah cukup memberikan segenap jiwa raga hingga pikiran saya untuk perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan saya. Setahun pula saya mulai berani untuk mengambil berbagai kursus membuat kue, sebuah hobi baru yang mulai muncul ketika saya memperhatikan ibu saya yang begitu tekun membuat kue-kue enak di dapur. Tak hanya “passion” tapi juga rasa cinta yang dicurahkan pada saat membuat kue. Sebab apa yang akan keluar dari pemanggangan adalah untuk disajikan kepada orang-orang tercinta.

Semerbak harum kue yang baru matang kini menjadi pengharum ruangan yang selalu menyapa saya ketika saya kembali ke kosan. Bahkan harumnya lebih wangi ketimbang harumnya masakan yang saya buat di dapur kecil saya. Kesan manis selalu ditinggalkan ketika saya selesai membuat kue. Wangi yang menjadi teman setia di kala malam hari. Membuat saya selalu bersemangat untuk terus dan terus membuat kue.

Pisang pun menjadi pilihan saya. Bukan karena bentuknya yang begitu eksotis, tapi karena saya memang suka makan pisang sejak dulu. Apalagi ketika saya mencoba untuk pertama kali keik pisang yang dibelikan oleh teman ibu saya ketika saya masuk rumah sakit. Ada yang berbeda dari sebuah keik pisang dibandingkan keik-keik lainnya. Ada sensasi yang berbeda saat masuk ke dalam mulut saya. Iseng ketika saya sudah cukup menguasai teknik membuat kue, saya membuat keik pisang dengan resep hasil coba-coba. Rasanya ternyata enak! Bahkan rasanya tidak ingin membaginya dengan orang lain. Sejak itu pula saya semakin tertarik untuk membuat kue dengan bahan tambahan pisang. Hingga akhirnya saya mulai membuat brownies pisang yang resepnya adalah hasil bertanya kepada mbah google. Dan ternyata banyak yang suka.

Saya pun mulai memberanikan diri untuk menjual kue pisang saya. Pertamanya saya masih ragu, karena sumber daya manusianya hanya saya sendiri. Oven yang saya miliki masih oven tangkring yang hanya muat 2 loyang untuk sekali masuk. Belum lagi harus berbagi waktu antara pekerjaan utama. Tapi entah kenapa, mungkin karena saya masih berdarah orang Surabaya yang membuat saya Bonek alias bondo nekat untuk memulai “bisnis” kecil saya. Ditambah lagi dengan janji almarhum ayah saya yang siap “memantau” dari atas sana. Saya menjadi semakin berani, bahkan siap untuk meninggalkan pekerjaan utama saya nanti. Fokus untuk mengembangkan bayi kecil saya ini.

Kini saya sudah memiliki brand saya sendiri. Masih sangat kecil. Tapi saya tak putus semangat. Bahkan ada banyak hal yang ingin saya buat dengan bisnis kecil saya ini. Ada satu hal yang membuat saya semakin senang membuat kue adalah ketika orang yang memesan kue saya merasa bahagia saat mencicipi kue saya. Tak ada yang lebih membuat saya bahagia ketika melihat orang lain tersenyum saat merasakan hasil kerja keras saya. Nyatanya berbagi kebahagiaan bisa dilakukan dengan membuat sepotong kue pisang. Semoga besok para pemesan kue saya juga ikut bahagia dengan kue-kue yang akan dikirimkan ke mereka. Selamat malam! 🙂

Arus

image

Kadang manusia terlalu malas dan tersesat begitu lama dalam arus yang tak beraturan. Sejak menggapai batu, lelah, lalu menggapai batang kayu, kemudian lelah, dan mencoba menggapai apa saya yang bisa dilihat dan dipegang.

Mungkin itu yang sedang terjadi pada saya. Saya malas. Saya malas untuk bergerak. Saya tak punya lagi passion. Saya diam. Terlalu banyak diam. Dan kini diam seakan menjadi perlarian yang nyaman bagi saya.

Hanya diam hinggap di sebuah batu hingga merasa lelah, lalu hanyut mengikuti arus dan berhenti ketika mendapat tempat untuk berpegangan. Dan akhirnya menjadi bodoh. Merasa terlalu nyaman. Menumpuk banyak hutang bukannya harta. Demi bisa bertahan lama di suatu tempat. Hutang untuk menutupi kelemahan.

Saat terus berjuang di antara arus yang tak beraturan, rasa iri pun hinggap saat melihat banyak manusia yang berhasil mencapai puncak pepohonan yang tinggi dan bisa bersayap dan terbang semakin tinggi hingga tampak seperti sebuah titik di langit.

Saya selalu beralasan, waktunya akan tiba. Namun kata-kata ini hanya menjadi mantra untuk bisa bertahan di arus tak beraturan ini tanpa berani keluar dan melangkah jauh menuju pepohonan. Bahkan ketika waktu terus berjalan dan mulai habis, saya tak bergerak sedikitpun.

Saya ingin menggapai bintang di langit. Saya ingin bisa bangga dengan langkah yang saya pilih. Bukan lagi loncat dari satu tempat ke tempat lain di antara arus tak beraturan.

Malam ini, semoga. Semuanya menjadi jelas dan terang. Saya hanya berharap. Selamat malam.

Passion

Apa passion kamu?

Pertanyaan ini selalu datang ketika saya merasa bosan dengan apa yang saya sedang kerjakan. Iya, saya ini termasuk orang mudah sekali merasa bosan. Bahkan apapun yang saya tekuni pasti akan segera menemukan titik jenuhnya. Dulu saya tertarik dengan filateli, bahkan saya berniat mengoleksi setiap benda pos yang diterbitkan oleh Kantor Pos (saking fanatiknya saya pun punya peralatan lengkap untuk mengoleksi perangko). Dan setelah saya masuk asrama (karena waktu itu saya masih duduk di bangku SMP), akhirnya kegiatan mengoleksi perangko pun hilang sudah. Seperti sudah tak ada rasanya lagi, alias hambar banget.

Di asrama dan juga di bangku SMU, saya mulai tertarik dengan seni peran. Bukan jadi aktor, tapi menjadi orang yang berada di balik layar. Akhirnya saya belajar otodidak bagaimana caranya membuat skenario. Saya pun bercita-cita menjadi seorang pembuat film. Saat itu saya getol sekali membuat drama untuk angkatan saya. Rasanya ada kebanggaan ketika bisa membuat drama itu dipentaskan. Dan memang sih, belum profesional. Bahkan ekstrakurikuler saya bukan teater, malah ambil kelas musik klasik (alias belajar memainkan biola yang akhirnya gagal total) dan ketika naik kelas, saya beralih ke badminton. Lha apa hubungannya dengan drama-dramaan tadi?

Ketika ada keinginan, saya pun menggebu-gebu agar bisa diterima di Institut Kesenian Jakarta. Tempat yang begitu jauh dari kampung halaman. Tempat asing dengan sejumlah cerita “serem”-nya. Ya namanya juga anak muda yang masih punya semangat 45. Saya datang bagaikan bonek ke Jakarta, sambil ditemani almarhum kakak saya yang sudah lama tinggal di Jakarta. Mendaftarlah saya di IKJ, ikut tes seleksinya, dan bahkan ikut diwawancarai oleh para sineas yang waktu itu cukup dikenal namanya. Namun karena halangan ketiadaan biaya, akhirnya meski saya diterima, saya pun hanya bisa melambaikan tangan ke cita-cita saya tadi.

Yogyakarta jadi tempat bermain saya berikutnya. Gagal masuk IKJ, saya pun masuk ke program studi Komunikasi, Atma Jaya Yogya. Di sini saya mengambil jurusan Broadcasting (yang tidak jauh dengan hiruk-pikuk dunia perfilman). Kala itu Ilmu Komunikasi adalah favorit, semua pingin masuk ke Komunikasi. Bisa dibilang sudah seperti jaman booming-nya Manajemen.

Kegagalan membuat saya bersemangat. Intinya ya kuliah, pulang, main, kuliah, pulang, belajar. Cukup terbayarkan dengan nilai IPK saya yang di atas rata-rata. Tapi saya masih ingin bisa membuat film (walau tidak harus sekolah film). Akhirnya saya pun bergabung dan mendirikan komunitas film. Lumayan terbayarkan dengan membuat beberapa film pendek. Meski kadang idealism saya belum 100% terwujud dalam film-film yang diproduksi oleh komunitas saya.

Ketika film mulai terbayarkan, saya pun mencoba realistis. Saya kan sekolahnya di jurusan Broadcasting, jadi besok saya harus kerja di dunia pertelevisian. Hal ini membuat saya mulai melirik isi perut dunia pertelevisian tanah air. Singkat kata, waktu itu TransTV adalah stasiun tv yang dilirik oleh kebanyakan anak Broadcast. Kayaknya ada semacam gengsi tersendiri ketika bergabung di stasiun tv berlian itu. Walau akhirnya agak merasa putus asa karena kebanyakan yang diterima bukan berasal dari Broadcasting. Tapi ya namanya juga cita-cita, tetap diperjuangkan.

Coba melamar sana-sini. Menghabiskan puluhan hingga ratusan ribu untuk mengirimkan CV ke Jakarta. Katanya kalau kirim lamaran via pos akan lebih bisa dibaca, ketimbang kirim via email (dan sepertinya tidak ada perbedaan sama sekali, itu tergantung dengan faktor keberuntungan). Hingga sebuah stasiun tv di Kedoya meminta saya datang untuk ikut tes rekruitmen. Lagi-lagi saya jadi bonek ke Jakarta. Waktu itu saya sempat bersumpah, sekali ke Jakarta saya tidak akan pulang sebelum dapat kerja (sekaligus ngirit, pulang pergi ke Jakarta itu mahal).

Dan saya pun gagal di tes pertama. Jadilah saya pengangguran baru di Jakarta. Namun berkat bantuan yang luar biasa dari sepupu saya, saya pun diberikan pekerjaan untuk membantu studio foto milik mereka di daerah Kembangan. Ya tidur seadanya, termasuk makan seadanya. Yang penting saya kerja. Hingga tante saya meminta saya mengirimkan CV ke salah satu kenalannya di Cilandak. Eh, nyantol juga CV saya. Diterimalah saya menjadi kru sebuah rumah produksi kecil-kecilan.

Tapi karena gaji yang saya peroleh masih diambang batas, saya pun punya tekad untuk mencari lagi. Dan akhirnya cita-cita saya terwujud. Dapat pekerjaan di sebuah stasiun tv lokal (walau lokal, tetap saja stasiun tv). Saya mencoba menikmati dan menikmati. Saya pun mulai senang dengan dunia fesyen. Eh, kok ya saya kemudian terdampar menjadi Marcomm untuk sebuah clothing line. Tapi tetap saja tidak membuat saya puas. Saya kembali mencoba menikmati dan menikmati. Saya mulai senang menulis. Membuat blog. Saya suka dengan tulisan Samuel Mulia di Kompas Minggu.

Itu pula yang membuat saya terdampar di sebuah media massa, yang masih satu saudara dengan tv Kedoya. Saya pun mencoba menikmati dan menikmati. Hingga terdampar di sebuah lembaga riset asal Jepang. Dan di sini pula saya mulai tertarik dengan dunia rajutan. Saya sampai bela-belain ikut kursus privat dengan sebuah komunitas merajut. Ikutan event terbesarnya. Bahkan berburu benang-benang di pasar Asemka. Saya mulai melengkapi peralatan merajut saya. Sebenarnya hobi ini muncul ketika saya pulang kampung dan berbicara dengan ibu saya. Kebetulan dia juga hobi merajut. Ya, jadilah saya tertarik.

Tapi merajut itu butuh kesabaran dan waktu. Itu pula yang membuat saya pelan-pelan meninggalkannya. Hingga ketika saya masuk ke perusahaan transportasi, saya mulai benar-benar meninggalkan dunia rajutan. Karena ketiadaan waktu, membuat saya tak sempat berpikir apa yang ingin saya lakukan.

Hingga suatu ketika, saya melihat ibu saya yang suka memasak dan membuat kue. Dari dulu ibu saya ini sudah menjadi ratunya dapur di rumah kami. Banyak kue kering yang sudah dia buat, banyak pula cake yang sudah mengenyangkan perut saya. Ibu saya pun senang membuatnya. Itu pula yang membuat saya akhirnya beralih ke dunia roti dan kue. Saya rela ambil kursus yang berbiaya mahal, saya juga memperbanyak buku-buku resep (semua itu adalah investasi, demikian kata ibu saya). Dan saya senang melakukannya. Walau harus berbagi waktu dengan kantor dan kehidupan pribadi saya.

Pada suatu ketika, saya harus memilih. Saya ingin bebas melakukan apa yang saya suka. Saya tak lagi ingin bekerja untuk orang lain. Saya ingin bekerja untuk diri saya sendiri. Kejenuhan dan jarak lokasi kantor jauh membuat saya semakin jengah. Harus bangun pagi, harus melalui padatnya jalanan, harus mengerjakan apa yang diminta kantor, pulang malam. Dan saya mulai bosan.

Lalu pertanyaan itu datang kembali. Apa passion kamu?

Kali ini saya masih memiliki semangat untuk membuat roti dan kue. Tapi bagaimana dengan waktu yang akan datang. Saya sih berani untuk pergi kembali ke kampung halaman. Namun yang membuat saya ragu, apakah saya siap dengan kehidupan setelahnya? Banyak sahabat yang mendukung pilihan saya. Tapi apakah ini yang tepat untuk saya?

Kini saya sedang menghadapi dua pilihan. Tetap tinggal di kantor saya sekarang hingga akhir tahun (supaya bisa mendapat THR), atau pindah ke kantor baru yang jaraknya lebih dekat dan gaji yang hanya berbeda sekian digit (yang pada akhirnya saya tetap harus meninggalkan kantor ini juga). Saya tidak ingin buru-buru kembali ke kampung halaman. Banyak alasan yang bisa saya ceritakan sekarang, tapi apakah itu akan meyakinkan saya untuk melakukan langkah berikutnya? Saya hanya takut menjadi bosan. Mungkin kalau ditanya lagi, apa passion kamu? Tidak bosan dengan apa yang saya kerjaan saat ini. Menjadi diri sendiri dan bekerja untuk diri sendiri.

Doakan saya!